Keuangan Bisnis untuk Pemula: Contoh Praktis Income Statement dan Neraca

Anda owner bisnis pemula dan ingin mengerti keuangan bisnis? Anda berada di website yang tepat! Karena akan kami jelaskan konsep keuangan bisnis dan laporan keuangan sesederhana mungkin dengan contoh sehari-hari.

Apa itu keuangan bisnis? Keuangan bisnis itu sangat lengkap. Ada pembagian profit, ada laporan keuangan, ada pembukuan, ada valuasi aset dan masih banyak lainnya. Tapi di artikel kami kali ini akan fokus bahas pembukuan atau pencatatan keuangan.

Mengapa sih bisnis itu harus repot-repot mencatat keuangan? Nah, tujuan dari pembukuan itu mencatat, menganalisis dan melaporkan kondisi keuangan bisnis itu. Mengapa kita harus mengetahui kondisi keuangan bisnis kita? Ya tentu saja kita sebagai owner bisnis harus mampu keputusan keuangan yang baik sesuai kemampuan bisnis kita. Kemampuan finansialnya. Jadi bukan berpedoman pada saldo rekening cukup atau tidak. Mungkin biar Anda lebih bisa mengerti kami akan langsung mencontohkan dan jelaskan pakai cerita.

Inilah cerita bisnis kaos Bahlil. Ceritanya ada owner bisnis yang namanya Bahlil dan agar mudah kita anggap Bahlil ini hanya jualan satu jenis kaos. Jadi ceritanya pas tanggal 1, Bahlil membeli 500 kaos dari supplier. Anggap per kaos seharga Rp. 10 ribu. Nah selama satu bulan, dia menjual kaos itu di media sosial dengan harga Rp. 50 ribu per piece. Setelah sebulan ternyata sold out semua.

Pasti Bahlil sekarang ingin tahu berapa profit yang dia dapat setelah satu bulan jualan kaos di media sosial. Kedua, mungkin dia juga ingin tahu apakah sudah siap untuk melakukan ekspansi atau belum. Ekspansi di sini contohnya, worth it ga ya untuk Bahlil misalnya investasi untuk membeli mesin jahit industri. Agar dia bisa produksi kaosnya sendiri tanpa dia harus membeli dari supplier.

Bingung kan kalau Anda jadi Bahlil? Karena tanpa pencatatan keuangan, informasi keuangannya yang penting-penting seperti penjualan, cost, profit, itu semua tidak tercatat. Akibatnya Bahlil tidak tahu ini profitnya berapa. Dan dia juga tidak bisa membuat keputusan keuangan yang baik dan bisa membantu tumbuh kembang bisnisnya ke depannya.

Nah biasanya owner bisnis akan melihat pada laporan keuangan sebagai patokan sebelum dia membuat keputusan keuangan, seperti gaji, ekspansi, beli peralatan, beli aset dan lain-lain. Dan salah satu laporan keuangan yang paling penting adalah income statement.

Mengapa income statement paling penting? Karena balik ya, tentu saja kita harus realistis namanya bisnis pasti tujuannya adalah mencari duit atau profit. Dan income statement atau dalam bahasa Indonesia adalah laporan laba rugi, itu menunjukkan informasi penjualan, cost dan juga profit yang didapat oleh suatu bisnis dalam suatu periode.

Mari kita balik lagi ke cerita Bahlil yang jualan kaos. Kalau dia ingin tahu profitnya dalam satu bulan, dia harus melihat ke income statementnya. Bahlil dalam waktu satu bulan berhasil menjual 500 kaos dengan harga Rp. 50 ribu per piece. Berarti penjualannya 500 x Rp. 50 ribu = Rp. 25 juta.

Dan ingat, Bahlil membeli kaos itu dari supplier yang harganya Rp. 10 ribu per piece. Berarti Bahlil memiliki harga pokok penjualan 500 x Rp. 10 ribu = Rp. 5 juta. Jadi sejauh ini income statementnya Bahlil, hasil penjualan Rp. 25 juta – harga pokok penjualan Rp. 5 juta = profit Rp. 20 juta. Tapi ini belum selesai. Mengapa? Bahlil jualan kaos di media sosial, anggap dia mengeluarkan biaya iklan Rp. 2 juta. Nah biaya iklan itu masuk pada biaya operasional. Berarti income statementnya Bahlil sekarang dikurangi lagi dengan Rp. 2 juta biaya operasional untuk iklan. Jadi net profit atau laba bersihnya Bahlil itu adalah Rp. 18 juta. Berarti Bahlil dalam satu bulan jualan kaos, dia mendapatkan profit Rp. 18 juta.

TABEL Income Statement Bahlil

Income Statement Bahlil (1 Bulan)

ItemNominal (Rp)
Penjualan25.000.000
HPP Kaos(5.000.000)
Gross Profit20.000.000
Biaya Iklan(2.000.000)
Net Profit18.000.000
Laba bersih 72% margin!

Ya memang Bahlil hanya jualan satu jenis produk saja makanya bikin laporan keuangannya itu bisa sesederhana contoh ini. Tentu dalam praktiknya, apalagi kalau Anda jualan berbagai macam produk dengan harga yang beda-beda, dengan cost yang beda-beda pula, pasti akan lebih rumit daripada contoh ini. Tapi di artikel kami ini bukan tutorial bikin laporan keuangan melainkan kami ingin menjelaskan konsep laporan keuangan dan juga perannya dalam bisnis agar Anda lebih paham.

Selain income statement, ada satu laporan keuangan lagi yang tidak kalah penting tapi sering dilupakan oleh owner bisnis dan itu adalah balance sheet. Ini laporan apa ya?

TABEL Balance Sheet Bahlil

Balance Sheet Bahlil (Akhir Bulan)

AsetNominal (Rp)Liabilities + EquityNominal (Rp)
Cash23.000.000Capital Owner5.000.000
Inventory0Retained Earnings12.600.000
Profit Sharing5.400.000
TOTAL23.000.000TOTAL23.000.000
Balance ✓

Balance sheet adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan suatu bisnis berdasarkan berapa aset, kewajiban dan juga ekiuitasnya yang dimiliki oleh bisnis tersebut. Apa sih aset, kewajiban dan ekuitas?

Kita mulai dari aset dulu. Aset adalah barang/harta yang dimiliki oleh bisnis yang bisa digunakan untuk menghasilkan uang untuk bisnis itu. Contohnya kendaraan, peralatan, mesin, stok barang, cash di rekening dan masih banyak lagi.

Kewajiban atau liabilities adalah kewajiban yang harus dibayar oleh suatu bisnis kepada pihak lain. Contohnya hutang bank atau tagihan supplier.

Dan ekuitas atau equity itu agak abstrak. Tapi itu adalah sebenarnya apa yang tersisa untuk owner bisnis kalau misalnya bisnis itu menjual seluruh aset yang dimilikinya dan membayar semua tagihan/kewajiban yang dia punya. Dalam balance sheet, aset itu ada di satu sisi. Dan liabities + equity itu ada di sisi yang lain. Dan ini harus balance atau seimbang. Karena aset itu harus sama dengan liabilities ditambah equity. Mengapa harus balance?

Karena semua aset yang dimiliki oleh bisnisnya pasti diperoleh atau dibeli menggunakan uang orang lain atau kewajiban/liabilities atau uangnya sendiri. Sekarang Anda sudah kenal dengan income statement dan balance sheet.

Tapi tahukah Anda kalau dua laporan ini saling berhubungan? Agar lebih mudah dipahami, kami langsung beri contoh pakai cerita Bahlil tadi. Kita mulai dari awal sekali, Bahlil sebelum membeli kaos dari supplier berarti dia perlu memiliki modal cash terlebih dulu untuk beli kaos dari supplier. Dia berarti memiliki modal cash Rp. 5 juta yang nantinya akan dia pakai untuk membeli kaos dari supplier.

Jadi kira-kira di posisi awal sekali, laporan posisi keuangan Bahlil itu aset (cash) Rp. 5 juta dan liabilities + equity (capital use) Rp. 5 juta. Nah setelah itu Bahlil menggunakan uang Rp. 5 juta itu untuk membeli kaos lalu dijual. Berarti cash Rp. 5 jutanya “menghilang” dan diganti menjadi inventaris Rp. 5 juta.

Setelah Bahlil jualan kaos di media sosial selama satu bulan, terjual semua. Berarti inventarisnya sekarang menjadi nol dan Bahlil mendapatkan penjualan sebesar Rp. 25 juta. Berarti Bahlil memiliki cash Rp. 25 juta. Dan sekarang posisi keuangannya Bahlil menjadi aset berisi cash Rp. 25 juta dan inventory Rp. 0. Liabilities dan equity tetap berisi capital use Rp. 5 juta.

Dan kalau Anda lihat posisi itu tidak balance. Kok sebelah kiri Rp. 25 juta, tapi sebelah kanan cuma Rp. 5 juta? Nah, salahnya di mana? Sebenarnya ini tidak salah. Hanya saja laporan balance sheetnya Bahlil itu belum balance karena belum dihubungkan ke income statementnya Bahlil.

Nah mari kita langsung balik lagi ke income statementnya Bahlil di tengah cerita. Terlihat di bagian operasionalnya, Bahlil kan keluar uang Rp. 2 juta untuk biaya iklan. Nah berarti cash dia tidak mungkin Rp. 25 juta di balance sheetnya. Karena Bahlil sudah memakainya Rp. 2 juta itu untuk biaya iklan. Berarti cash dia sisa Rp. 23 juta.

Nah sekarang coba kita hitung lagi. Sekarang kita dapat di sebelah kiri atau di sisi aset itu Rp. 23 juta. Tapi di sebelah kanan, liabiliities dan equitynya masih Rp. 5 juta. Mengapa masih tidak seimbang? Karena selisihnya ini kita belum hitung/masukkan profitnya si Bahlil. Dan kalau Anda perhatikan, profitnya Bahlil kan Rp. 18 juta. Selisih anta aset dan juga liabilities + equity Rp. 23 juta dikurangi Rp. 5 juta kan sama dengan Rp. 18 juta kan?

Anda lihat di income statementnya Bahlil, net profit Rp. 18 juta ini harus dimasukkan ke balance sheet. Masuknya itu ke bagian mana nih? Ini tergantung sih. Soalnya profit bisnis itu ada yang dibagikan kepada owner, dan ada juga yang ditahan oleh bisnisnya sebagai retained earnings. Tapi agar artikel kami ini tidak sampai terlalu panjang sekali, anggap saja dari profit Rp. 18 juta ini, 30% dibagi kepada Bahlil sebagai owner bisnis atau profit sharing, dan sisa 70% nya itu ditahan oleh bisnisnya sebagai retained earnings.

Jadi mari kita hitung lagi nih dari net profit Rp. 18 juta, kita hitung 30% x Rp. 18 juta = Rp. 5,4 juta. Itu kita masukkan ke capital Bahlil karena itu adalah profit sharing untuk Bahlil. Dan sisanya 70% nya lagi = Rp. 12,6 juta itu masuk ke retained earnings. Dan sekarang balance sheetnya menjadi seimbang.

Sekarang Bahlil juga sudah bisa lebih enak. Dia sudah tahu bisnisnya naik profitnya berapa, punya aset apa saja, kewajibannya apa saja. Dan dia juga bisa tahu berapa “nilai” atau “value” bisnisnya secara keuangan. Saat ini kalau Bahlil ingin membuat keputusan seperti perlu atau tidak menggaji karyawan atau worth it tidak beli mesin jahit industri. Karena sekarang lebih gampang daripada Bahlil cuma kira-kira saja atau hanya lihat jumlah saldo rekeningnya cukup atau tidak.

CHECKLIST Pembukuan Pemula 

5 Langkah Catat Keuangan Harian:

  • [ ] Excel/Google Sheet gratis
  • [ ] Catat penjualan + HPP harian
  • [ ] Pisah rekening bisnis
  • [ ] Review mingguan (profit?)
  • [ ] Tools: BukuWarung/Jurnal.id

Tentu saja, lagi-lagi ini hanya contoh. Makanya kami beri contoh yang sesederhana mungkin. Kalau misalnya Anda jualan produk yang jumlahnya lebih banyak macamnya, ya tentu saja cara bikin laporan keuangannya pasti lebih ribet. Tapi kami harap dengan penjelasan yang super sederhana ini Anda bisa lebih paham hubungan antara 2 laporan keuangan yang paling penting dalam bisnis.

Agar Anda sadar bahwa bisnis itu tidak hanya bagaimana caranya agar jualannya laris manis. Tapi juga bagaimana caranya agar Anda kelola uang yang sudah susah payah Anda dapat dari jualan. Karena uang bisnis itu tidak hanya dicatat saja, tapi juga harus dikelola. Sekian, semoga bermanfaat.

FAQ Keuangan Bisnis:
Q: Tools gratis? A: Google Sheet + BukuWarung
Q: Profit negatif gimana? A: Potong biaya operasional
Q: Pajak gimana? A: NPWP → 0,5% omzet UMKM

Disclaimer:

Informasi pada artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan referensi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi, kerugian, atau tindakan yang diambil berdasarkan informasi ini. Pastikan Anda melakukan verifikasi dan konsultasi profesional sebelum membuat keputusan keuangan atau bisnis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *