Nasihat Keuangan Orang Tua: Masih Relevan di 2025?

Mungkin semua orang pernah mendapatkan nasehat atau tips keuangan dari orang tua atau keluarga besar. Tipsnya bisa bermacam-macam. Mulai dari tips karir, tips dagang hingga tips investasi. Beberapa nasehat yang mungkin pernah Anda dengar misalnya seperti ini, “Ayo, beli rumah secepatnya. Nanti kalau ditunda-tunda harganya semakin lama semakin naik lho!” Atau, ”Kalau ada duit nganggur beliin perhiasan emas saja. Kalau butuh uang darurat bisa cepat dijual.” Bisa juga, “Cari kerja yang karirnya stabil, biar tenang kalau pensiun, hari tuanya terjamin.”

Selain itu ada nasehat, “Jangan mau kerja di perusahaan kecil, mending cari di perusahaan besar, BUMN atau jadi PNS.” Ada ga ini di antara Anda yang pernah dengar nasehat-nasehat seperti itu? Tentunya nasehat dari orang tua dan keluarga itu tujuannya baik. Niatnya juga baik. Mereka kan sudah mengalami perjalanan hidup yang lebih lama dari kita. Jadi tentunya mereka ingin berbagi pengalaman hidup mereka. Agar kita bisa terhindar dari keputusan keuangan yang salah.

TABEL Nasihat Lama vs Baru 2026

8 Nasihat Orang Tua: Relevan atau Kadaluarsa?

Nasihat Lama (80-90an)Kenapa Dulu TepatRealita 2026Alternatif Modern
Beli rumah ASAPLahan murahHarga +200%REIT/digital aset
Emas = amanInflasi tinggiReturn 4-6%Saham dividen 8%
PNS/BUMN stabilJaminan pensiunInflasi pensiunGig economy/side hustle
Konstruksi primadonaBoom infrastrukturAutomatisasiTech/AI/data science
Kerja perusahaan besarLoyalty rewardLayoff massalSkill > gelar
Tabung bankBI rate 10%+Inflasi > bungaETF/index fund
Ruko kos-kosanSewa stabilOversupplyCo-working/Airbnb
Pensiun 55 thUmur panjang rendahHidup 90+ thFIRE 40 th
WEF: 85M jobs hilang, 97M baru 2025-2030

Nah, tapi di artikel kami kali ini, kami ingin memberi pandangan lain bahwa terlepas dari tujuan baik dari orang tua atau keluarga kita, bisa jadi nasehat keuangan yang mereka beri itu tepat dijalankan di zaman mereka dulu. Tapi belum tentu masih relevan dengan zaman yang kita lalui sekarang.

Di zaman orang tua kita dulu, situasi ekonomi, iklim investasi dan perdagangan sangat berbeda dengan saat ini. Masalahnya kebanyakan nasehat-nasehat keuangan dari orang tua kita itu didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang mereka lalui dulu. Di mana kondisi dunia usaha dan karir itu sangat berbeda dengan sekarang. Dan tentunya dunia usaha dan ekonomi 10-20 tahu lagi akan berbeda dengan saat ini.

Jadi tantangan ekonomi yang dialami dan dijalani oleh generasi dahulu berbeda dengan tantangan ekonomi yang kita jalani saat ini. Dan tantangan ekonomi di 10-20 tahun mendatang juga akan berbeda lagi dengan yang kita lalui saat ini. Dengan tantangan ekonomi yang beda, tentunya keputusan-keputusan keuangan yang tepat juga akan berbeda di tiap generasi.

Keputusan keuangan atau karir yang dulu tepat, belum tentu sekarang masih relevan. Dan keputusan keuangan atau karir yang kita anggap tepat saat ini belum tentu juga masih relevan di masa depan. Nah, makanya agar bisa paham keputusan keuangan yang tepat sesuai dengan zamannya, mau ga mau, suka atua ga suka, kita harus selalu mengerti perkembangan ekonomi dan industri. Agar kita bisa terus beradaptasi pada perubahan zaman.

Misalnya, sektor-sektor industri yang dulu menjadi primadona di era 80-90an, banyak yang sekarang industrinya sudah meredup. Di sisi lain banyak sektor industri yang dulu belum ada dan sama sekali ga terpikirkan, sekarang justru menjadi tren yang banyak diminati dan dibutuhkan dunia industri saat ini.

Terjadinya pergeseran tren industri ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari perkembangan teknologi, pergeseran kebiasaan masyarakat, sampai perubahan gaya hidup modern. Semua itu akhirnya memicu perubahan kebutuhan industri. Yang akhirnya mempengaruhi juga pada pilihan dunia karir hingga dunia investasi.

Kami bercerita sedikit dulu, kondisi ekonomi di tahun 70-80an dulu. Saat itu dikenal sebagai era kejayaan pembangunan Indonesia. Karena pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan di berbagai daerah. Terutama gedung-gedung pemerintahan, jalan raya antar kota, bendungan, bandara dan juga fasilitas umum.

Indonesia sanggup melakukan itu semua karena pemerintah saat itu mendapatkan dana pinjaman dari IGGI atau Inter Govermental Group on Indonesia. Dan juga diberkahi oleh kenaikan harga minyak dunia di tahun 70 hingga 80an yang tentunya menambah pemasukan uang dalam jumlah besar. Dan banyak di antaranya yang dipakai untuk pembangunan.

Dengan masifnya proyek-proyek pembangunan dari pemerintah di tahun 70-80an, ini jelas membawa berkah buat perusahaan-perusahaan konstruksi di masa itu. Makanya kalau Anda lihat mayoritas perusahaan-perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia berdiri di era keemasan sektor industri tersebut.

Hal ini juga ga terlepas pada dunia tenaga kerja. Di mana tenaga kerja di bidang sipil, kontraktor dan arsitektur menjadi profesi idaman di masa itu. Yang identik dengan gengsi yang tinggi, gaji besar dan masa depan yang terjamin. Bahkan hingga sekarang jurusan-jurusan kuliah di fakultas teknik masih dipandang sebagai jurusan yang prestige atau bergengsi sekali di banyak universitas top nasional. Pokoknya kalau kuliahnya di teknik, anggapannya itu mahasiswa pintar karena persaingan masuk jurusan teknik itu sangat ketat.

Di sisi lain, era keemasan pembangunan nasional di tahun 70-80an mempengaruhi kemampuan kas negara untuk mensejahterakan pekerja pemerintah, misal PNS dan juga karyawan BUMN. Dengan tunjangan yang tinggi dan jaminan pensiun yang lebih pasti daripada pekerja swasta. Tapi zaman sekarang kerja di perusahaan konstruksi, BUMN atau menjadi PNS bisa dibilang sudah ga menarik seperti dulu lagi. Memang sih secara gaji dan benefit mungkin masih termasuk besar. Dan masih cukup banyak yang berminat di sektor ini.

Tapi tentu sektor ini sudah ga jadi primadona seperti dulu lagi. Khususnya saat tren industri bergeser di tahun 2000an ke sektor teknologi. Yang dipicu oleh boomingnya internet dan smartphone.

Sekarang kami akan lanjutkan sedikit cerita tentang gejolak industri yang kita alami dalam 10 tahun terakhir. Bisa dibilang 10 tahun terakhir ini adalah eranya layanan digital dan teknologi informasi. Era ini terlahir dari tren smartphone yang bisa memunculkan banyak aplikasi yang dikembangkan oleh para software engineer. Dan akhirnya menjadi layanan digital kesayangan kita semua.

Mulai dari media sosial, toko online, ojek online, layanan streaming film, mobile gaming, investasi di aplikasi dan lain-lain. Mungkin di zaman kita SD dulu, orang kita menganggap smartphone dan kuota internet adalah barang mewah yang ga esensial sama sekali. Tapi sekarang koneksi internet dan smartphone adalah benda wajib. Termasuk agar kita bisa menikmati fasilitas umum dan pergi jarak jauh.

Bayangkan saja di tahun 2000 pengguna internet di Indonesia hanya ada 2 juta orang. Tapi di 20 tahun kemudian, angkanya meningkat 100 kali lipat menjadi 200 juta orang. Era inilah yang memunculkan jenis pekerjaan-pekerjaan baru yang belum pernah terpikirkan 20 tahun yang lalu.


Seperti data analis, data scientist, content creator, atlet e-sport, sosial media influencer, hingga video editor dan animator. Di mana banyak dari profesi ini menawarkan peluang karir yang baru dan income yang besar.

Tapi di era 2010 hingga 2015, bahkan mungkin sampai sekarang banyak generasi orang tua kita yang cemas karena anak-anaknya memutuskan berkarir di industri yang ga pernah mereka dengar sebelumnya. Bagi mereka menjadi pedagang di toko online, menjadi influencer, atlet e-sport, reviewer produk gadget atau membuat proyek blockchain itu semua adalah istilah yang asing dan ga terbayangkan sama sekali.

TREND KARIR 2026 (WEF Data)

Top 10 Jobs 2026 vs 2006

2026 (Baru)Growth2006 (Lama)Decline
Data Scientist+35%Akuntan manual-20%
AI Specialist+40%Bank teller-25%
Sustainability Mgr+30%Konstruksi-15%
Content Creator+50%PNS adminStagnan
Blockchain Dev+60%Pabrik operator-30%
Indonesia: Tech jobs x5 lipat 2020-26

Laporan World Economic Forum tahun 2020 memperkirakan kalau 8 dari 10 pekerjaan paling laku di Indonesia di masa depan akan berkaitan dengan teknologi yang belum pernah kita kenal 20 tahun yang lalu. Sementara pekerjaan-pekerjaan konvensional yang populer di generasi orang tua kita dulu diperkirakan pamornya akan turun dalam beberapa tahun ke depan.

Di era 20 hingga 30 tahun yang lalu skenario karir itu ga sebanyak sekarang. Makanya pilihan menjadi PNS, pekerja BUMN, menjadi dokter spesialis atau bisnis properti kos-kosan dan menjadi penyewa ruko adalah pilihan profesi dan keputusan bisnis yang populer. Tapi sekarang skenario untuk mempunyai penghasilan besar dan sejahtera semakin variatif. Seiring dengan berkembangnya dinamika industri. Begitu juga dengan dunia investasi.

Kalau kita bertanya pada orang tua kita tentang investasi, kebanyakan dari mereka akan merekomendasikan emas atau properti saja. Itu karena di zaman orang tua kita dulu, investasi di pasar modal jauh lebih susah. Aksesnya susah, modalnya harus banyak, dan ketersediaan informasinya juga sangat terbatas.

HITUNGAN Inflasi vs Tabungan

Rp10jt Tabung vs Invest 10 Th (Inflasi 5%/th)

TahunTabung Bank (3%)Saham/ETF (10%)
1Rp10.3jtRp11jt
5Rp11.6jtRp16.1jt
10Rp13.4jt (real Rp8jt)Rp25.9jt (real Rp16jt)
Nasihat “tabung aman” rugikan Rp8jt power!

Sementara di zaman dulu, lahan murah masih banyak tersedia di berbagai daerah. Bahkan beberapa perusahaan ada yang memberi bonus dan dana pensiun pegawainya dalam bentuk tanah. Saking banyaknya lahan yang masih tersedia. Akan sangat berbeda dengan generasi sekarang yang kauh lebih mudah akses berinvestasi di pasar modal. Kebutuhan dananya jauh lebih kecil, informasinya juga tersedia di mana-mana.

Kalau zaman dulu investasi ga dianggap sebagai hal yang esensial. Tapi untuk tantangan ekonomi sekarang, di mana kenaikan harga barang sangat agresif dan terus menggerus daya beli uang kita. Jadi bisa dibilang investasi adalah bagian penting dari dalam tantangan ekonomi saat ini. Agar bisa menumbuhkan aset kita dengan compounding effect. Atau setidaknya untuk melawan tingkat inflasi dan kenaikan harga barang yang agresif. Untungnya kebutuhan investasi sekarang sudah banyak di fasilitasi oleh layanan digital yang bagus.  

Kami percaya setiap generasi mempunyai tantangan dan pengalamannya sendiri-sendiri. Orang tua kita sudah mengalami berbagai peristiwa ekonomi di masa mereka. Dan itu membentuk persepsi mereka untuk beradaptasi di situasi ekonomi yang mereka hadapi saat itu. Dan generasi kita mengalami tantangan dan peristiwa ekonomi yang juga unik dari sebelum generasi sebelumnya.

Yang tentunya perlu keputusan keuangan yang relevan untuk bisa menghadapi semua tantangan ekonomi yang dialami. Kami harap artikel ini bisa menjembatani adanya perbedaan pandangan di tiap generasi agar bisa saling terbuka untuk belajar dan berempati pada kondisi satu sama lain. Tiap generasi hidup di dunia yang berbeda. Mengalami kejadian berbeda dan tantangan yang berbeda juga.

QUIZ: Nasihat Mana Relevan?

Test 1 Menit: Score Generasi Anda

  1. Emas > saham? (Ya=Orang tua +1)
  2. PNS = jackpot? (Ya=+1)
  3. Rumah 1st asset? (Ya=+1)
  4. Side hustle OK? (Tidak=+1)
  5. Tech karir aneh? (Ya=+1)

0-2: Adaptif 2026! | 3-5: Update nasihat!

Disclaimer:

Informasi pada artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan referensi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi, kerugian, atau tindakan yang diambil berdasarkan informasi ini. Pastikan Anda melakukan verifikasi dan konsultasi profesional sebelum membuat keputusan keuangan atau bisnis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *