Indonesia Siap Redenominasi Rupiah, Begini Tujuan dan Konsekuensinya

Selamat datang di pimartha.id, saat ini ada banyak orang heboh bahas tentang redenominasi. Semua itu berawal sejak Kementerian Keuangan mengusulkan rancangan undang-undang redenomisasi di program legislasi nasional tahun 2020-2024. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya rencana redenominasi dibahas. Tahun 2011 Darmin Nasution, Gubernur BI saat itu pernah merencanakan redenominasi. Gubernur BI selanjutnya, Agu Martowardojo juga pernah mengajukan RUU redenominasi.

TABEL 10 Negara Redenom 2000-2026

Redenominasi Sukses (Nol Dipangkas)

NegaraTahunNolSebelum → SesudahAlasan
Turki200561M Lira → 1 YTLHiperinflasi
Brasil199431 Cruzeiro → 1 RealInflasi 2k%
Rusia199831 Rubel → 1 Rubel baruKrisis 1998
Venezuela20185100k Bolivar → 1 SovHiper 1jt%
Zimbabwe20091210T Zim$ → 1 Zim$Hiper 89 sextillion
RI19652Rp10 → Rp0.1Inflasi pasca kemerdekaan
RI 2026? 3 nol potensial

Lantas redenominasi itu apa? Ada ga sih negara yang pernah melakukan redenominasi ini? Apa saja sih dampaknya? Mari kita bahas ini bersama.

Singkatnya redenominasi itu adalah menyederhanakan nominal mata uang dengan cara mengurangi digit angka nol di mata uang yang bersangkutan. Redenominasi itu ga mengurangi daya beli uang yang Anda punya. Ini beda dengan sanering yang benar-benar memangkas daya beli uang yang Anda punya. Misalnya, katakanlah pemerintah Indonesia melakukan redenominasi 3 digit angka nol. Berarti uang Rp. 10.000,- akan berubah menjadi Rp. 10,-.

SIMULASI Rupiah Baru (3 Nol)

Rp Lama → Rp Baru (Daya Beli Sama)

Nominal LamaNominal BaruContoh
Rp10.000Rp10Bakso
Rp100.000Rp100Gaji harian
Rp1.000.000Rp1.000Motor bekas
Rp1MiliarRp1jtRumah kecil
Inflasi illusion: Rp5 naik → 20%!

Nah kalau sekarang Rp. 10.000,- bisa dipakai untuk membeli semangkuk bakso, setelah redenominasi uang Rp. 10,- tetap bisa dipakai untuk membeli semangkuk bakso juga. Daya belinya tetap sama. Hanya 3 angka nolnya saja yang dihapus. Jadi uang Rp. 100.000,- akan menjadi Rp. 100,-, uang Rp. 1000.000,- akan menjadi Rp. 1.000,- dan uang Rp. 1.000.000.000,- akan menjadi Rp. 1.000.000,-. Pokoknya tinggal dikurangi saja 3 angka nolnya. Kira-kira kebayang ya?

Sebetulnya kita sebagai masyarakat sudah sering melakukan redenominasi dalam skala kecil di kehidupan sehari-hari. Misalnya, coba Anda lihat menu kopi di kedai. Harga minuman mereka itu ditulis tanpa 3 angka nol. Banyak juga restoran yang ga mencantumkan 3 angka nol di daftar harga menu mereka. Dalam banyak kesempatan kita juga sering mengganti 3 angka nol dengan huruf “K”. Seperti 25K, 50K, 100K dan lain-lain.

Ga hanya itu saja. Dalam komunikasi lisan pun kita sering melakukan hal ini. Misalnya kalau kita sedang menawar harga sebuah barang di pasar. “250 boleh ya, bang? 300 kemahalan ini.” Ya, kita melakukan itu untuk kepraktisan saja. Tapi ga teregulasi.

Sebenarnya ada ga sih negara yang pernah melakukan redenominasi? Atau jangan-jangan hanya Indonesia saja yang berencana melakukan ini? Redenominasi ini sudah dilakukan di banyak negara. Mulai dari Turkiye dan Rumania di tahun 2005, Rusia di tahun 1998, sampai Brasil yang melakukan redenominasi sebanyak 6 kali di tahun 1960 hingga 1990. Bahkan Indonesia sendiri juga pernah melakukan redenominasi di tahun 1965. Jadi ini bukan pertama kalinya Indonesia meredenominasi mata uangnya. Karena kita sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya.

Lalu tujuan redenominasi itu apa? Apa manfaat menghapus digit angka di mata uang? Tujuannya itu bermacam-macam. Bergantung negara yang melakukannya. Misalnya redenominasi Rusia di tahun 1998. Salah satu tujuan redenominasi tersebut adalah untuk meyakinkan publik Rusia kalau krisis ekonomi di Rusia sudah selesai.

Ada satu hal menarik terkait redenominasi ini. Mayoritas mencatat kalau 38 dari 60 negara yang melaksanakan redenominasi pada periode tahun 1960-2003, tujuannya untuk menyederhanakan digit mata uangnya setelah hiperinflasi. Sebagian negara yang melakukan redenominasi itu adalah negara yang mengalami inflasi ratusan bahkan ribuan %.

Mengapa bisa begitu? Jumlah digit angka pada mata uang itu adalah akumulasi dari krisis ekonomi dan inflasi yang terjadi di masa lalu. Semakin tinggi inflasi, jumlah digitnya akan terus bertambah. Semakin banyak digitnya maka muncul kebutuhan untuk menyederhanakan nominalnya dengan redenominasi.

 PROKONTRA Redenom RI 2026

Argumen Ya/Tidak (BI/Kemenkeu View)

Pro (+):

  • Efisiensi akuntansi
  • Kurs USD sejajar (16k→16)
  • Psikologis kredibel

Kontra (-):

  • Biaya Rp10-20T sosialisasi
  • Money illusion inflasi
  • Timing: Inflasi stabil 3%?

Kondisi Ideal: BI Rate stabil + defisit <3%

Sekarang Anda mungkin bertanya-tanya, Indonesia ga sedang mengalami hiperinflasi seperti Venezuela atau Zimbabwe. Untuk apa kita harus redenominasi segala? Dari pantauan kami ada 2 tujuan dan manfaat utama dari redenominasi di Indonesia. Mari kita uraikan satu per satu.

  1. Meningkatkan Kredibilitas Dan Kesetaraan Mata Uang

Anda perlu tahu secara nominal, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar US bedanya sangat jauh. USD $1,- setara dengan Rp. 16.686,- per hari ini. Sementara di negara tetangga kita misalnya, USD $1 setara dengan 32,27 Bath Thailand, dan 4,17 Ringgit Malaysia. Jauh sekali kan bedanya?

Dengan melakukan redenominasi hal tersebut bisa memberi kesan kalau nilai tukar Rupiah itu sejajar sama dengan mata uang negara lain. Hal ini positif kalau dilihat dari kacamata psikologis market dan perdagangan. Contohnya bisa kita lihat dari negara Turkiye. Sebelum redenominasi USD $1 setara dengan 1,8 juta Lira. Setelah redenominasi USD $1 menjadi setara dengan 1,8 Lira. Hal itu membuat mata uang Lira bisa disejajarka dengan mata uang lainnya. Dan tentu saja hal tersebut juga bisa meningkatkan kredibilitas dan daya saing mata uang Lira di perdagangan internasional.

Di sisi Lain, pecahan uang Rp. 100 ribu itu adalah pecahan terbesar kedua si ASEAN setelah pecahan 500 ribu Dong Vietnam. Di Indonesia pecahan Rp. 100 ribu iru daya belinya kecil sekali. Mungkin hanya cukup beberapa kali beli makan saja. Coba kita bandingkan dengan Dollar Singapura. 100 ribu Dollar Singapura cukup untuk biaya makan selama setahun penuh.

  • Efisiensi Pencatatan, Baik Dalam Akuntansi / Kegiatan Sehari-hari

Redenominasi ini juga berdampak untuk menyederhanakan pencatatan dalam akuntansi maupun dalam perhitungan sehari-hari. Kalau dipikir-pikir 3 angka terakhir dalam nominal rupiah itu hampir ga terpakai sama sekali. Hanya memperpanjang penulisan saja.

Dengan memangkas 3 angka terakhir dalam nominal Rupiah, semua pencatatan keuangan menjadi lebih sederhana dan bisa meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pencatatan.

Tapi balik lagi, di balik tujuan dan dampak positifnya tentu saja pelaksanaan redenominasi itu mempunyai konsekuensi tersendiri. Dan jika konsekuensi ini ga dimitigasi dengan baik, hal tersebut akan berdampak buruk pada kondisi perekonomian di Indonesia.

Apa saja konsekuensinya?

  1. Pembulatan Harga Yang Berlebihan Bisa Berujung Pada Inflasi Tinggi.

Anda pernah mengetahui tentang Money Illusion ga? Ini terjadi ketika kita hanya melihat angka pada uang saja. Bukan pada daya beli uang itu sendiri. Saat ini mungkin kita menganggap bayar makan sebesar Rp. 25 ribu itu adalah hal biasa. Dan kita sudah terbiasa pada uang puluhan ribu untuk membiayai makan.

Ketika redenominasi uang Rp. 25 ribu itu berubah menjadi Rp. 25,-. Nah di sinilah ilusinya. Kita akan jadi melihat Rp. 25,- sangat kecil dan ga berharga. Padahal secara daya beli Rp. 25,- itu setara dengan Rp. 25 ribu. Karena hal ini mungkin kita akan cuek dan menganggap remeh kalau makanan yang kita beli itu naik menjadi Rp. 30,-. Atau dibulatkan menjadi Rp. 30,- karena ga ada uang kembalian. “Ah Cuma Rp. 5,- doang kok.” Eiitss, jangan salah. Kenaikan Rp. 5,- itu setara dengan kenaikan harga sebesar 20%.

Atau kita sudah terbiasa dengan kata-kata,”Rp. 100,- nya boleh didonasikan kak?” Nah sekarang mungkin Rp. 100,- itu terlihat sangat kecil dan mungkin persepsi Anda terhadap Rp. 100,- itu ga akan langsung hilang begitu saja. Padahal setelah redenominasi Rp. 100,- itu setara dengan Rp. 100 ribu. Kalau ilusi ini terjadi dalam skala besar tentu saja hal ini akan menaikkan angka inflasi.

  • Pengeluaran Biaya Besar Oleh Pemerintah.

Mulai dari sosialisasi hingga implementasi. Indonesia sangat luas, ada yang tinggal di kota, ada juga yang tinggal di desa bahkan di kaki gunung. Ada yang sudah terfasilitasi dengan gadget dan internet, tapi ada juga yang daerahnya belum dijangkau oleh jaringan internet. Jangankan internet, listrik saja belum ada.

Secara latar belakang pendidikan pun beda-beda. Ada yang menempuh pendidikan tinggi. Di sisi lain ada juga yang masih buta huruf. Tugas pemerintah adalah mengawal proses redenominasi. Melakukan sosialisasi pada 286.693.693 jiwa masyarakat Indonesia yang terpencar-pencar di berbagai pulau dan dengan latar belakang kondisi yang beragam.

Ingat, pemberlakuan redenominasi ini membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat sebagai pelaku ekonomi. Proses sosialisasi ini ga sesederhana memangkas 3 angka nol saja. Karena untuk merealisasikannya itu butuh waktu, tenaga dan juga biaya yang ga sedikit. Di sisi lain pemerintah juga perlu menggelontorkan banyak uang untuk kegiatan implementasi redenominasi.

Contohnya terkait kebutuhan untuk mencetak uang baru, sosialisasi, belum lagi juga diperlukan adendum dalam berbagai perjanjian legal yang menyebut nominal uang dan lain-lain. Dan jangan lupa juga redenominasi ini mengubah semua pencatatan uang digital dan aset digital Anda. Di dalamnya itu termasuk bank, saham, dan semua instrumen lain yang berkaitan dengan pencatatan keuangan.

Dan predikat trilyuner di Indonesia pun akan berubah. Karena setelah redenominasi di Indonesia sudah ga ada trilyuner lagi.  Adanya milyarder. Dengan melihat konsekuensi yang ada redenominasi ini jelas ga bisa dilakukan sembarangan. Butuh kesiapan, persiapan dan rencana yang matang sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan redenominasi. Kondisi ekonomi negara juga harus dalam kondisi yang mendukung. Agar redenominasi ini bisa berjalan lancar.

Kondisi yang mendukung itu bisa dilihat dari ;

  1. Kondisi fundamental kuat, pertumbuhan ekonomi naik.
  2. Inflasi stabil.
  3. Stabilitas nilai tukar rupiah.
  4. Defisit anggaran di angka yang wajar.

Demikian dulu yang kami sampaikan tentang redenominasi. Semoga sedikit bahasan ini bisa membantu Anda dan teman-teman lainnya dalam memahami apa itu redenominasi, apa tujuannya, serta apa saja dampak dan konsekuensi yang ditimbulkan dari kebijakan redenominasi ini.

FAQ Redenominasi

FAQ Rupiah Nol:
Q: Kapan 2026? A: RUU PLPN 2026-30 [web:1215]
Q: Daya beli hilang? A: Tidak, hanya nol
Q: Contoh sukses? A: Turki +50% trust
Q: RI siap? A: Sosialisasi 2 th min

Disclaimer:

Informasi pada artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan referensi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi, kerugian, atau tindakan yang diambil berdasarkan informasi ini. Pastikan Anda melakukan verifikasi dan konsultasi profesional sebelum membuat keputusan keuangan atau bisnis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *