Memahami Risiko Trading & Investasi Saham: Cara Cerdas Menghindari Kerugian Besar

Selamat datang di Pimartha.id, artikel kali ini kami akan bahas risiko trading & investasi di pasar saham. Bagi Anda yang di awal belajar tentang saham dulu, tentunya Anda sering ikut seminar saham. Di seminar tersebut sering disebutkan berbagai keuntungan yang bisa didapatkan kalau Anda mulai berinvestasi di pasar modal.

Yang sering disebut biasanya seperti; kalau misal di tahun 2009 Anda beli saham BCA di harga Rp. 2500,- maka di tahun ini (misal) sudah Rp. 35.000,-. Anda untung berkali-kali lipat. Belum lagi keuntungan yang didapat dari deviden. Kesannya melakukan transaksi di saham itu mudah dan cepat bikin kaya. Jarang sekali disebutkan risiko-risiko apa saja yang mungkin Anda hadapi. Terutama oleh para pemula.

Di sini kami akan mengupas secara gamblang apa saja risiko yang mungkin Anda hadapi ketika Anda melakukan trading atau investasi saham. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Anda, khususnya bagi Anda yang baru saja membuat keputusan untuk melakukan trading atau investasi saham. Kita mulai dari risiko pertama yaitu;

  1. Kapital Loss atau Rugi

Jadi kita beli di harga yang tinggi dan dijual di harga yang lebih rendah dari harga awal beli kita. Banyak orang yang menganggap main saham itu mudah, tinggal beli di harga murah lalu jual di harga tinggi. Kelihatannya memang mudah, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Memprediksi kondisi pasar itu tidak semudah dibayangkan. Butuh kemampuan dan pengalaman untuk melakukan itu.

Kondisi pasar sendiri itu dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari faktor teknikal, berita, terbitnya laporan keuangan hingga kondisi ekonomi politik di dalam dan di luar negeri. Bagi Anda para trader atau para investor saham, capital loss ini dalah salah satu risiko yang pasti terjadi cepat atau lambat. Tapi capital loss ini sendiri harus disikapi dari berbagai sisi. Jangan memandang capital loss ini sebagai hal yang negatif saja. Karena pada dasarnya capital loss ini wajar selama kerugiannya masih terukur. Dan Anda tidak kehilangan sebagian modal Anda.

Para trader dan investor yang sudah jago dan berpengalaman sekalipun sebenarnya masih mengalami kerugian juga. Bedanya, mereka yang sudah berpengalaman tahu bagaimana caranya untuk meminimalisir kerugian tersebut. Khusus untuk para pemula, saran kami start small dulu saja. Jangan langsung gegabah melakukan transaksi dalam jumlah besar di pasar saham. Beri waktu dulu untuk diri Anda belajar. Ingat, Anda pasti akan mengalami kerugian.

Jadi start small dulu dan belajar. Batasi juga kerugian Anda memakai stop loss. Cari tahu juga mengapa Anda bisa rugi dan belajarlah dari kesalahan. Kalau Anda merasa sudah ada kemajuan, barulah Anda boleh bertransaksi di saham di nominal yang lebih besar.

  • Susah Jual

Jadi begini, transaksi saham itu terjadi kalau ada penjual dan pembeli yang nawar di harga yang sama. Masalahnya kalau penjualnya banyak, sementara pembelinya tidak ada, bagaimana? Kasus seperti ini sangat sering kejadian khususnya di saham-saham yang harganya ada di batas bawah harga saham yaitu Rp. 50,-. Saham gocaplah istilahnya.

Contohnya bisa kita lihat HOME. Sudah sejak tanggal 5 November 2019 lalu saham ini tidak bergerak sama sekali. Harganya tetap saja di Rp. 50,-. Yang antri ingin menjual saham ini banyak sekali, tapi tidak ada pembelinya. Singkatnya bisa masuk tapi tidak bisa keluar. Suatu saat nanti bisa saja saham itu bisa bergerak naik lagi, tapi entah kapan.

Hal ini bisa jadi salah satu pertimbangan Anda dalam memilih saham. Karena kalau Anda masuk ke saham-saham seperti itu mungkin uang Anda akan mengendap di sana dalam waktu yang mungkin tidak sebentar. Kami sendiri tidak mempermasalahkan kalau Anda ingin beli saham apapun. Yang penting Anda harus benar-benar paham terkait risikonya dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, Bukan hanya ikut-ikutan saja.

  • Suspensi Saham

Singkatnya adalah penghentian perdagangan saham sementara oleh pihak bursa. Durasi suspensi saham ini juga bisa bermacam-macam. Mulai dari 1 hari hingga bertahun-tahun. Penyebab suspensinya juga bermacam-macam. Misalnya; UMA ( Unusual Market Activity) yaitu saat pergerakan harga saham tertentu itu tidak wajar. Bisa naik terlalu tinggi atau turun terlalu rendah dalam waktu singkat. Bisa juga karena gagal bayar hutang atau obligasi, karena penyalahgunaan dana IPO atau rate issue, hingga kesalahan dalam pencatatan laporan keuangan.

Dari sisi pemilik saham, mungkin kondisi yang dialami saat saham disuspensi ini agak mirip di kondisi poin sebelumnya. Sama-sama tidak bisa menjual. Tapi penyebabnya berbeda, yang sebelumnya karena tidak ada pembeli, sedangkan ini karena perdagangannya dihentikan oleh pihak bursa. Kalau Anda memiliki saham yang disuspensi oleh pihak bursa, ya sebenarnya tinggal tunggu waktu saja kapan suspensinya dibuka kembali.

Kalau misalkan kesalahannya tidak berat suspensi ini akan segera dibuka. Tapi kalau pelanggarannya berat dan pihak emiten yang bersangkutan itu juga tidak kooperatif untuk menyelesaikan masalahnya, maka suspensi ini akan terus diperpanjang oleh pihak bursa.

Contoh saham yang pernah disuspensi itu adalah ELTY. Saham ini sudah disuspensi sejak 1 Juli 2019 dan suspensinya dibuka tanggal 4 Desember 2019. Masalahnya setelah suspensinya dibuka pun sahamnya mengalami kondisi susah jual, seperti yang sudah kami sebut di poin sebelumnya. Jadi banyak yang ingin jual tapi tidak ada pembelinya.

Coba Anda bayangkan, Anda punya uang tapi dalam bentuk aset yang tidak bisa diapa-apakan. Tapi balik lagi, Anda punya hak penuh dalam menentukan saham yang ingin Anda transaksikan. Jadi kalaupun Anda ingin masuk ke saham-saham yang berisiko tinggi, ya tidak masalah. Yang terpenting Anda paham terkait risikonya.

  • Delisting

Bisa dibilang ini adalah risiko yang paling berat dibandingkan ketiga risiko yang sudah kami sebutkan sebelumnya. Singkatnya delisting ini adalah penghapusan saham dari Bursa Efek Indonesia. Artinya saham perusahaan yang bersangkutan itu sudah tidak bisa diperdagangkan lagi di bursa saham.

Delisting ini ada 2 jenis. Ada delisting sukarela dan delisting paksa. Contoh kasus delisting sukarela adalah saham AQUA. Perusahaan tersebut memang ingin menghapuskan pencatatannya dari bursa saham. Dan akhirnya membeli kembali saham yang dimiliki oleh investor publik. Untuk kasus delisting sukarela bisa dibilang risikonya kecil karena saham yang dimiliki publik itu akan dibeli kembali oleh pihak perusahaan.

Yang berisiko adalah ketika perusahaan didelisting paksa oleh otoritas bursa. Saham-saham yang didelisting paksa ini biasanya mengalami masalah berat. Misalnya; izin usahanya dicabut, dinyatakan pailit atau mengabaikan teguran dari bursa dan lain-lain.

Proses delisting ini sendiri biasanya tidak langsung terjadi begitu saja. Biasanya bursa memberi tegiran dulu berupa suspensi saham. Sebelum akhirnya didelisting paksa. Kita ambil contoh saham TMPI yang didelesting oleh pihak bursa. Saham TMPI ini sudah berkali-kali disuspensi oleh pihak bursa dari tahun 2017. Pada tanggal 3 Juli 2017 lalu, saham ini sudah disuspensi karena terlambat menyampaikan laporan keuangan dan tidak bayar denda intuk keterlambatan tersebut.

Keterlambatan penyampaian laporan keuangan ini terus diulang hingga tahun 2019. Karena hal tersebut, suspensi saham TMPI itu terus diperpanjang hingga akhirnya resmi didelisting dari bursa pada tanggal 11 November 2019. 3 hari sebelum delisting, suspensi saham TMPI ini dicabut di pasar nego. Jadi sudah bisa ditransaksikan, tapi hanya di pasar nego.

Tabel Ringkasan Risiko

Tabel: Ringkasan 4 Risiko Utama Trading & Investasi Saham

Jenis RisikoPenjelasan SingkatContoh KasusCara Mengurangi Risiko
Capital LossRugi karena harga jual lebih rendah dari harga beli.[web:13]Beli tinggi, jual rendah.Gunakan stop loss 5-10%, evaluasi kesalahan.
Saham Susah JualLikuiditas rendah, antre jual banyak tapi pembeli minim.[web:13]HOME gocap Rp50 sejak 2019.Cek volume transaksi harian & order book.
Suspensi SahamPerdagangan dihentikan sementara oleh BEI.[web:9]ELTY (Juli-Des 2019).Pantau pengumuman bursa & laporan keuangan emiten.
Delisting SukarelaEmiten tarik diri & buyback saham publik.[web:3]AQUA.Baca prospektus buyback.
Delisting PaksaHapus paksa BEI karena masalah serius (pailit, laporan telat).[web:9]TMPI (delisting Nov 2019).Hindari emiten dengan riwayat suspensi berulang.

Tips Manajemen Risiko

5 Tips Praktis Mengelola Risiko Saham Pemula

  • Position Sizing: Batasi risiko per transaksi maksimal 1-2% dari total modal.[web:10]
    Contoh: Modal Rp10 juta → risiko per saham maks Rp100-200 ribu.
  • Stop Loss Wajib: Tentukan batas rugi otomatis 5-10% di bawah harga beli.[web:7]
  • Diversifikasi: Jangan all-in satu saham, sebar ke 5-10 saham berbeda sektor.[web:14]
  • Cek Likuiditas: Hindari saham gocap < Rp100, volume < 1 juta lembar/hari.[web:14]
  • Profil Risiko: Mulai dari saham blue chip (BBCA, TLKM) jika tidak tahan volatilitas.[web:7]

Tapi coba Anda bayangkan kalaupun perdagangannya dibuka, siapa yang ingin beli saham yang sudah akan didelisting seperti ini? Setelah didelisting pemilik saham TMPI berbondong-bondong mencari keadilan. Singkatnya mereka mencari kejelasan tentang nasib uang mereka. Risiko terburuknya adalah uang mereka hilang begitu saja, tidak berbekas.

FAQ: Risiko Trading & Investasi Saham yang Sering Ditanyakan

Apa itu capital loss dan bagaimana menghindarinya?
Rugi saat jual saham di bawah harga beli. Hindari dengan stop loss & analisis fundamental/teknikal.

Bolehkah beli saham gocap Rp50?
Bisa, tapi risiko susah jual tinggi. Cek likuiditas dulu via RTI/IDX app.

Apa beda suspensi vs delisting?
Suspensi = hentikan sementara, delisting = hapus permanen dari BEI.

Investor pemula harus mulai berapa modal?
Rp1-5 juta cukup untuk belajar, pakai single stock futures (SSF) jika modal minim.

Bagaimana jika saham disuspensi lama?
Tunggu pembukaan, tapi siap rugi jika masalah fundamental berat.

Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.

Mini Quiz Interaktif

Quiz Cepat: Siapkah Anda Trading Saham? (Hitung skor YA-mu)

  1. ✅ Saya siap rugi 10% tanpa panik?
  2. ✅ Saya selalu pakai stop loss?
  3. ✅ Saya cek likuiditas sebelum beli?
  4. ✅ Portofolio saya diversifikasi?
  5. ✅ Saya paham suspensi/delisting?
  6. ✅ Saya tidak ikut FOMO rekomendasi?

Hasil:

  • 5-6 YA = Siap advanced trading! [web:11]
  • 3-4 YA = Mulai small, belajar analisis.
  • ≤2 YA = Kuasai dasar dulu, coba paper trading.

Disclaimer:

Informasi pada artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan referensi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi, kerugian, atau tindakan yang diambil berdasarkan informasi ini. Pastikan Anda melakukan verifikasi dan konsultasi profesional sebelum membuat keputusan keuangan atau bisnis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *