Apakah Anda pernah mendengar kalau ada sejumlah negara yang aset dalam negerinya itu bisa sampai disita paksa oleh negara lain? Kok bisa aset negara disita oleh negara lain? Berarti negaranya sedang dijajah? Kan kedaulatan negaranya dirampas oleh negara lain? Mungkin tidak negara Indonesia juga mengalami hal yang sama?
Di artikel kali ini kami akan bahas tentang beberapa kasus penyitaan aset negara yang dilakukan karena negara tersebut itu gagal bayar utang pinjaman. Beberapa kasus yang populer belakangan ini adalah penyitaan aset negara China terhadap negara-negara yang gagal bayar utangnya. Seperti Sri Lanka, Tajikistan, Montenegro dan beberapa negara lainnya.
Bagaimana ceritanya jebakan utang bisa sampai membuat aset negara disita? Mari kita bahas hal ini bersama. Pertama di kalangan pengamat ekonomi dan politik, fenomena ini sebenarnya mempunyai julukannya sendiri yaitu Debt-Trap Diplomacy, atau jebakan diplomasi utang. Mungkin sebagian dari Anda ada yang belum paham atau bahkan belum pernah mendengar tentang istilah tadi.
Istilah itu pertama kali disebut oleh Brahma Chellaney, seorang profesor dan peneliti studi strategis asal India yang sudah merilis 9 buku dan banyak publikasi ilmiah terkait dengan isu geopolitik dan geostrategi. Menurut pandangannya, beberapa negara seperti China itu memberi pinjaman berbunga tinggi ke negara lain. Dengan iming-iming nilai pinjaman yang besar dan proses pencairan yang mudah. Agar bisa membiayai proyek infrastruktur yang dijalani oleh negara berkembang.
Tapi ternyata di balik kemudahan itu, negara pemberi pinjaman memberikan syarat bunga tinggi yang membuat utangnya itu hampir mustahil untuk dilunasi tepat waktu. Dan juga membuat kontrak yang menguntungkan negara pemberi pinjaman. Tapi tentu saja ini akan sangat memberatkan negara peminjam ketika gagal bayar. Alasan waktu negara peminjam tidak mampu membayar utangnya tepat waktu, mereka terpaksa harus merelakan sebagian aset negaranya untuk disita oleh negara pemberi pinjaman untuk mengganti rugi atas utang yang belum terbayar.
Dalam beberapa dekade terakhir isu jebakan utang ini sering dikaitkan dengan negara China yang memang sedang rajin memberi pinjaman dan investasi pada ratusan negara berkembang di seluruh dunia. Menurut Chellaney, pendanaan China untuk pembangunan infrastruktur bukan hanya untuk keuntungan investasi saja. Tapi juga bertujuan mengembangkan keterhubungan ekonomi dunia dan menjadikan China sebagai pusat perdagangan dunia.
Menurut data yang beredar, China memang semakin banyak menyalurkan pinjaman internasional sejak awal abad 21. Di mana total saluran pinjaman yang sebelum tahun 2000 itu bisa dibilang tidak signifikan. Tapi di tahun 2019 jumlahnya meningkat pesat ke angka 1,7% PDB dunia atau sekitar USD 1,5 trilyun. Lantas dana pinjaman sebanyak itu dipakai untuk apa saja?

Kebanyakan pinjaman itu dipakai untuk membiayai proyek infrastruktur seperti proyek pembangkit energi di Pakistan, pembangunan waduk di Myanmar, pembangunan rel kereta api di Malaysia dan Indonesia, dan juga pelabuhan di Sri Lanka. Sepanjang tahun 2000 hingga 2017 ada hampir 11 ribu proyek pembangunan yang dibiayai oleh pinjaman dari China di seluruh dunia. Hal itu membuat China menjadi kreditur terbesar di dunia untuk negara-negara berkembang. Satu negara China itu bahkan mengalahkan gabungan jumlah pinjaman dari World Bank Group, Paris Club dan juga IMF.
TABEL Kasus Debt Trap Real
7 Kasus Utang China: Aset Disita? (2000-2026)
| Negara | Aset Disita | Nilai Utang | Status 2026 |
|---|---|---|---|
| Sri Lanka | Pelabuhan Hambantota (99 thn) | $8 miliar | Restrukturisasi |
| Zambia | Jaringan listrik | $6 miliar | Negosiasi |
| Uganda | Bandara Entebbe | $200 juta | Sewa 20 thn |
| Kenya | Jalur kereta SGR | $5 miliar | Restrukturisasi |
| Tajikistan | Tambang emas | $300 juta | Dijual China |
| Montenegro | Jalan tol | $1 miliar | EU bailout |
| Pakistan | CPEC proyek | $62 miliar | Ekstensi |
| Tidak ada “penyitaan paksa” – mayoritas restrukturisasi |
Aksi yang dilakukan oleh China ini jelas-jelas menarik perhatian banyak negara di dunia. Banyak dari mereka yang curiga kalau kredit yang diberikan oleh China itu bukan murni bertujuan membantu pembangunan di negara berkembang. Tapi juga karena ada motif politik yang ingin mereka capai.
Menurut beberapa pengamat politik, China sedang melakukan strategi pemberian utang ini untuk menguasai aset strategis, sumber daya alam dan juga jalur perdagangan di negara-negara miskin dan berkembang untuk bisa memperluas pengaruhnya di berbagai negara-negara di seluruh dunia. Berdasarkan data dari ISEAS, sepanjang tahun 2000 hingga 2017 terhadap 915 proyek pembangunan di Asia Tenggara hanya 1/6 saja dari kredit yang berbentuk bantuan. Selebihnya adalah pinjaman berbunga cukup tinggi. Rasio antara utang dan bantuan ini semakin timpang. Kalau misalnya ditotal dari seluruh negara di dunia. Di mana lebih dari 90% pinjaman yang diberikan China adalah pinjaman berbunga tinggi.
Kalau kita bandingkan dengan kredit yang disalurkan oleh Bank Dunia, mereka menarik bunga yang jauh lebih rendah. Di wilayah Asia Tenggara bunga rata-rata Bank Dunia adalah 1,3% hingga 2,8%. Sementara China mematok bunga rata-rata di atas 3%. Selain itu kredit dari Bank Dunia memiliki masa tenggang bayar yang lebih lama, yaitu sekitar 6,8 hingga 8,6 tahun. Sementara masa tenggang bayar pinjaman dari China hanya 5 hingga 6 tahun saja.
Dan dari sisi tempo pembayaran, Bank Dunia juga punya masa jatuh tempo yang jauh lebih lama daripada China. Tidak hanya itu saja, banyak dari pinjaman yang diberikan oleh China juga punya banyak ketentuan yang memberatkan negara peminjam. Misalnya, negara peminjam harus menempatkan sebagian pendapatan negara mereka di rekening khusus yang dimiliki oleh perbankan China sebagai jaminan pembayaran.
PERBANDINGAN Bunga & Tenor
China vs World Bank: Siapa Lebih Mahal?
| Kreditur | Bunga Rata | Grace Period | Tenor | Jaminan |
|---|---|---|---|---|
| China BRI | 3-5% | 5-6 tahun | 10-15 th | Aset strategis |
| World Bank | 1.3-2.8% | 6.8-8.6 th | 20-30 th | Tidak ada |
| IMF | 2-4% | Variabel | 3-10 th | Reformasi |
| China: 90% pinjaman = hidden debt $385 miliar [AidData] |
Hal ini membuat pendapatan negara peminjam jadi tersandera dan bisa ditarik kapan saja oleh China kalau misalnya terjadi masalah dalam pembayaran. Atau kalau terjadi sengketa, tanpa harus melalui pengadilan internasional. Selain itu lebih dari 90% kontrak utang yang di review punya isi perjanjian yang membuat China bisa membatalkan kontrak dan menagih pinjamannya itu sebelum jatuh tempo. Kalau misalnya terjadi situasi politik dan ekonomi yang tidak menguntungkan China di negara tersebut.
Dan ketentuan yang paling membuat “ramai” adalah banyak dari utang-utang yang mempunyai jaminan aset-aset strategis dari negara-negara peminjam. Seperti pelabuhan, bandara, jalur transportasi hingga pendapatan sumber daya alam mereka. Jadi kalau misalnya terjadi gagal bayar, negara peminjam sangat berisiko harus menyerahkan kedaulatan mereka atas aset-aset tersebut untuk dikuasai oleh China. Ngeri juga persyaratannya.
Kalau ketentuannya seberat itu, mengapa banyak negara-negara berkembang yang bersedia mendapat pinjaman utang dari China? Ternyata kebanyakan negara berkembang ini memang tidak memiliki pilihan lain. Mereka sangat butuh pembangunan infrastruktur untuk memberantas kemiskinan, mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan kualitas hidup warga negaranya. Tapi proyek seperti ini membutuhkan proses yang panjang, dana yang besar, dan waktu balik modal yang lama.
Negara-negara berkembang yang ekonominya masih terpuruk pasti kesulitan untuk mencari pendanaan proyek pembangunan negara mereka. Sekalinya ada dari lembaga internasional, biasanya prosesnya itu berbelit-belit, syaratnya sulit untuk dipenuhi dan tidak fleksibel dalam penggunaannya. Di sinilah China muncul sebagai satu-satunya negara yang mampu memberikan pinjaman besar tanpa proses yang ribet. Meskipun bunganya tinggi dan rawan mendapat ketentuan yang tidak menguntungkan.
Berkat pinjaman dana ini pembangunan infrastruktur negara berkembang bisa dikebut. Mulai dari gedung perkantoran, sarana transportasi, hingga area pusat bisnis di bangun di berbagai negara di Asia dan Afrika. Hingga kondisi ekonomi mereka mulai terangkat. Sayangnya proyek-proyek tadi itu membuat banyak negara berkembang terlilit utang pada China. Khususnya negara yang tidak bisa mengelola sumber dayanya. Atau yang stabilitas politiknya rawan konflik.
Di beberapa negara, rasio utang pada negara China tumbuh pesat dari yang tadinya hanya 1% PDB mereka di tahun 2005 menjadi 15% di tahun 2017. Bahkan beberapa negara ada yang memiliki rasio utang pada China mencapai 20% dari PDB mereka. Itu baru utang pada 1 negara saja. Belum pada negara atau institusi lainnya.
Rasio itu belum seberapa. Berdasarkan data dari penelitian AIDDATA, ternyata 38% pinjaman luar negeri yang disalurkan oleh China itu berstatus utang tersembunyi. Apa itu utang tersembunyi? Utang tersembunyi ini adalah utang yang tidak disalurkan ke pemerintah negara peminjam. Tapi langsung diberikan pada perusahaan BUMN, bank pemerintah, proyek-proyek kerja sama, hingga anak perusahaan China yang berlokasi di negara peminjam. Memang utang ini jatuhnya bukan utang pemerintah, jadinya tidak dimasukkan sebagai utang negara oleh pemerintahnya. Tapi sebenarnya kebanyakan dari utang ini pembayarannya dijamin oleh pemerintah dari negara peminjam.

Jadi secara tidak langsung sebenarnya yang akan menanggung akibat kalau misalnya perusahaan itu tidak bisa bayar utang, maka pemerintah dari negara peminjam itu yang berperan sebagai penjamin pinjaman. Ngerinya lagi menurut perkiraan AIDDATA, jumlah utang yang tidak diakui ini mencapai 5,8% dari PDB negara-negara peminjam tadi. Di mana jumlahnya mencapai USD 385 milyar atau lebih dari Rp. 5.800 trilyun.
DATA Utang Global 2026
Utang China ke Negara Berkembang (Update 2026)
| Tahun | Total Bayar | 75 Negara Miskin | Indonesia |
|---|---|---|---|
| 2025 | $35 miliar (Rp564 T) | $22 miliar | Rp24,4 T |
| 2026 | Proyeksi $40 miliar | $25 miliar | Kereta Cepat |
| Utang RI/China: 4-6% total ULN $400 miliar |
Nah mari sekarang kita bahas dampak pinjaman dari China yang sudah terasa di beberapa negara peminjamnya. Sejak bertahun-tahun lalu sudah ada berbagai berita tentang aset negara-negara yang terkena dampak gagal bayar dari pinjaman utang China ini. Misalnya negara Uganda yang bandaranya, bandara internasional Entebbe, disebut-sebut sudah di sita oleh China. Atau Zambia yang diberitakan infrastruktur jaringan listriknya juga disita oleh China. Dan yang lebih ramai, pelabuhan di Sri Lanka juga diberitakan sudah disita oleh China gara-gara tidak sanggup bayar utang.
Selain itu masih banyak negara-negara di Asia dan Afrika yang diberitakan asetnya disita oleh China. Seperti Kenya, Tajikistan, Montenegro dan masih banyak lagi lainnya. Tapi apa benar kasus penyitaan aset dan jebakan utang China ini valid? China tentu saja membantah isu strategi jebakan utang yang dituduhkan pada mereka.
Tapi selain China, ternyata banyak juga pakar-pakar di dunia yang turut menyatakan kalau teori jebakan utang China ini tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan data dari China Africa Research Initiative, kasus gagal bayar utang pada China mayoritas diselesaikan dengan restrukturisasi. Entah dengan perpanjangan tempo, pengurangan bunga atau menghapus sebagian pokok utangnya. Tercatat China sudah melakukan restrukturisasi utang untuk meringankan negara peminjam sebesar USD 15 milyar di benua Afrika sepanjang tahun 2000 hingga 2019. China juga tercatat melakukan penghapusan utang yang gagal bayar sebesar USD 3,4 milyar negara-negara di Afrika di periode yang sama.
Satu hal lagi yang patut diperhatikan banyak utang-utang ini tidak dibiayai langsung oleh pemerintah China. Tapi oleh bank dan perusahaan finansial asal China yang memang bertujuan mencari profit. Jadinya institusi keuangan ini tidak bisa sembarangan melakukan pengampunan utang. Di samping itu kalau kita lihat data dari bank dunia, dari 82 negara yang kesulitan bayar utang ke China ternyata utang terbesar mereka itu bukan berasal China. Melainkan dari institusi keuangan internasional lain.
Jadi banyak juga pakar yang berpendapat kalau isu jebakan utang China ini hanya sebatas sentimen politik dan cerita konspirasi yang dilebih-lebihkan saja. Perspektif ini diperkuat lagi oleh hasil penelitian dari MDPI, yang menyimpulkan bahwa pinjaman dari China sudah membantu negara-negara Afrika untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka.
Demikian pembahasan kami tentang polemik utang dari China yang diisukan sebagai strategi jebakan utang. Kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang netral sebenarnya kita tidak bisa melihat masalah ini secara hitam dan putih saja. Tapi tiap negara tentunya mempunyai kebutuhan yang berbeda. Tiap negara juga memiliki pertanggung jawaban yang berbeda pula untuk memenuhi kewajiban utangnya.
FAQ Utang China:
Q: Indonesia aman? A: Ya, restrukturisasi KCJB sedang
Q: Debt trap mitos? A: 80% restrukturisasi, bukan sita
Q: Dampak positif? A: Infrastruktur + pertumbuhan Afrika ✓
Q: Risiko utama? A: Hidden debt 38% + klausul rahasia
Berikut daftar beberapa sumber resmi dan akademik yang dijadikan rujukan untuk artikel:
- Data utang tersembunyi, 38% pinjaman, 5,8% PDB, USD 385 miliar
www.aiddata.org
(Laporan dan dataset “How China Lends” dan studi tentang “hidden debt” serta estimasi sekitar 5,8% PDB dan sekitar USD 385 miliar utang tersembunyi.) - Klausul kontrak, bunga lebih tinggi, tenor lebih pendek
www.aiddata.org
(Analisis 100+ kontrak utang China dengan negara berkembang: bunga rata‑rata lebih tinggi dan tenor lebih pendek dibanding kreditor OECD/multilateral.) - Restrukturisasi dan penghapusan utang, tidak ada penyitaan aset di Afrika
www.sais-cari.org
(China Africa Research Initiative – “Debt Relief with Chinese Characteristics”: data restrukturisasi sekitar USD 15 miliar dan pembatalan utang sekitar USD 3,4 miliar di Afrika, serta temuan tidak adanya bukti penyitaan aset di Afrika.)
www.reuters.com
(Berita mengenai kebijakan restrukturisasi dan penghapusan sebagian pinjaman Afrika oleh China, mengutip data CARI.)
- Dampak pinjaman China terhadap pertumbuhan ekonomi Afrika
www.sciencedirect.com
(Artikel ilmiah yang memodelkan pengaruh pinjaman China terhadap pertumbuhan ekonomi Afrika dan menemukan efek positif terhadap investasi dan output.)
www.doaj.org
(Indeks artikel open‑access yang meneliti hubungan pinjaman China dan pertumbuhan Afrika, umumnya menemukan korelasi positif.)
- Literatur tentang “debt‑trap diplomacy”
www.tandfonline.com
(Artikel akademik “Chinese debt trap diplomacy: reality or myth?” yang membahas apakah konsep jebakan utang ini faktual atau lebih merupakan narasi politik.) - Penelitian Brahma Chellaney dan istilah “debt‑trap diplomacy”
www.csds.in atau www.project-syndicate.org
(untuk artikel‑artikel opini Chellaney tentang “debt‑trap diplomacy” dan BRI, bisa dirujuk sebagai sumber penggagas istilah) - Data proyek dan jumlah pinjaman global China
www.aiddata.org
(Dataset proyek BRI dan pinjaman China ke negara berkembang di seluruh dunia, termasuk ribuan proyek infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, dan pembangkit listrik.)
